Selasa, 03 Maret 2015

doraemon

JAKARTA, KOMPAS.com - Tak banyak yang tahu, bahwa tokoh kartun robot kucing Doraemon terlahir bukan dengan warna biru. Fakta tersebut diungkap saat pergelaran 'Doraemon 100 Secret Gadget Expo' di Ancol Beach City Mall, Jakarta Utara.

"Ini lah kisah dan sejarah Doraemon. Dia dahulu bukan berwarna biru melainkan Kuning," ungkap Ambassador event Doraemon, Yuka Tan.

Dikisahkan bahwa Doraemon adalah robot kucing berwarna kuning. Ia kehilangan kupingnya terjadi suatu hari. Ketika Sewashi-san, seorang pembuat tanah liat membuat contoh patung tanah liat Doraemon. Dia memerintahkan robot tikus untuk memakan telinga tanah liat tersebut sehingga contoh patung tersebut menjadi terlihat seperti model 3 Dimensi.

Tapi malang, ternyata robot tikus tersebut salah mengartikan perintah Sewashi-san, dan berakhir dengan memakan kuping asli Doraemon. Kejadian ini menyebabkan Doraemon menjadi takut dengan tikus. Melihat kejadian tersebut, Sewashi-san segera melarikan Doraemon ke rumah sakit robot. Kondisi diperburuk karena dokter robot secara tanpa sengaja melepas semua telinga milik Doraemon.

KOMPAS IMAGES/RODERICK ADRIAN MOZES Pengunjung hadir dalam acara 'Doraemon 100 Secret Gadget Expo' di Ancol Beach City Mall, Jakarta, Selasa (2/12/2014). Pameran yang berlangsung selama 100 hari ini memamerkan 100 alat milik tokoh animasi kucing robot dari Jepang tersebut. Pengunjung dapat menikmati pameran dengan membeli tiket masuk seharga Rp 90.000 untuk usia 13 tahun ke atas dan Rp 55.000 untuk usia 5-12 tahun.
Kisah dilanjutkan ketika kekasih Doraemon, Noramyako melihat Doraemon kehilangan telinganya. Noramyoko menertawakannya dan membuat Doraemon sedih. Ia kemudian menghibur diri dengan meminum obat bahagia. Tapi tanpa sengaja, ia salah memakan obat. Obat yang dimakannya bukan lah obat bagagia melainkan obat sedih.

Doraemon yang sedih menangis selama 3 hari 3 malam. Karena menangis terlalu lama, cat tubuh berwarna kuning memudar menjadi biru. Oleh karena hal itu juga suaranya menjadi serak.
Penulis: Kontributor Travel, Sri Noviyanti
Editor : I Made Asdhiana

Tidak ada komentar:

Posting Komentar